Altarilmupengetahuan’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Pancasila pertemuan ke 5

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NASIONAL

Dosen : Wenny Ira Reverawati, S.IP., M.Hum

I. Pengertian Asal Mula Pancasila

I.I. Asal Mula Langsung

Menurut pendapat Notonegoro;

a. Kausa Materialis (Asal Mula Bahan)

Bangsa Indonesia, beserta adat istiadatnya, kebudayaannya dan nilai-nilai lain yang terdapat di dalamnya.

b. Kausa Formalis (Asal Mula Bentuk)

Rumusan-rumusan pancasila yang dikemukakan oleh; Soekarno, Yamin serta anggota siding BPUPKI, hingga secara sah bentuknya seperti terdapat dalam pembukaan UUD 1945.

c. Kausa Effisien ( Asal Mula Karya)

PPKI, yang membentuk Negara dan atas kuasa Negara mengesahkan Pancasila menjadi dasar Negara yang sah.

d. Kausa Finalis (Asal Mula Tujuan)

Para anggota BPUPKI dan panitia sembilan termasuk Soekarno-Hatta.

Founding Father sebagai kausa sambungan (yang merumuskan)

I.2. Asal Mula Tidak Langsung

* Unsr-unsur nilainya sudah tercermin dalam kehidupan bangsa Indonesia sehari-hari

* Nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan bangsa Indonesia tersebut dijadikan pedoman dalam memecahkan problema kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara

* Bangsa Indonesia sebagai kausa materialis Pancasila

Berdasarkan kedua asal mula pancasila tersebut, maka pada hakikatnya bangsa Indonesia berpancasila dalam tiga asas (TRIPRAKARA);

1. Pancasila asas kebudayaan,unsur-unsur nilainya merupakan kebudayaan dan adat istiadat yang telah melekat dan dimiliki bangsa Indonesia

2. Pancasila asas Religius, unsure-unsur nilainya telah terdapat pada bangsa Indonesia sebagai asas-asas dalam agama

3. Pancasila asas Kenegaraan, unsur-unsur nilainya ditetapkan menjadi rumusan pancasila yang sah dan sebagai dasar filsafat Negara, oleh para Faunding Father, melalui proses yuridis formal.

Kedudukan dan Fungsi Pancasila yang pokok adalah sebagai dasar Negara dan sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia.

Sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia

Pandangan hidup adalah tolok ukur/ kerangka acuan yang berasal dari nilai-nilai luhur.

Tempat untuk menyalurkan atau mewujudkan pandangan hidup adalah pada masyarakat, bangsa dan Negara.

Dalam kehidupan modern, pandangan hidup memiliki hubungan reflektif dialektis, yaitu sebagai berikut,pandangan hidup masyarakat akan terefleksikan pada pandangan hidup bangsa, dan pandangan hidup bangsa akan terefleksikan pada pandangan hidup negaranya. Sebaliknya pandangan hidup suatu Negara akan merefleksikan pandangan hidup bangsa dan masyarakatnya.

Sebagai pandangan hidup pancasila mengalami transformasi sebagai berikut, sebelum dirumuskan menjadi suatu ideologi, nilai-nilai pancasila telah terdapat dan tumbuh serta dijadikan pandangan hidup pada masyarakat Indonesia, pandangan hidup tersebut akhirnya menjelma menjadi pandnagan hidup bangsa Indonesia melalui proses sejarah yang panjang, sampai akhirnya dirumuskan oleh founding father , dan ditetapkan sebagai dasar Negara.

SEBAGAI PANDANGAN HIDUP BANGSA, PANCASILA MERUPAKAN KRISTALISASI NILAI-NILAI BANGSA.

SEBAGAI DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Kedudukannya sebagai berikut;

a. sumber dari segala sumber hokum (sumber tertib hokum)

b. suasana kebatinan dari UUD 1945 (cita-cita hokum)

c. Mewujudkan cita-cita hokum bagi hukumdasar Negara (tertulis dan tidak tertulis)

d. Sebagai norma bagi UUD 1945, dan penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara

e. Sumber semangat bagi UUD 1945 dan penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara.

II. Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dan Negara Indonesia

Ideologi berasal dari kata Idea artinya gagasan, konsep, pengertian dasar, cita-cita. Dan Logos artinya ilmu.

Secara harfiah ideologi berarti ilmu pengertian dasar.

Secara umum ideology berarti kumpulan gagasan-gagasan, ide-ide, keyakinan-keyakinan, kepercayaan-kepercayaan, yang menyeluruh dan sistematis, yang menyangkut bidnag politk sosial, kebudayaan dan keagamaan.

Sebuah ideology Negara memiliki cirri-ciri sebagai berikut;

  1. berderajat tinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaraan
  2. mewujudkan asas kerokhanian, pandangan dunia, pandangan hidup, pedoman hidup, pegangan hidup, yang dipelihara, dikembangkan, diamalkan, dilestarikan kepada generasi berikutnya, diperjuangkan dan dipertahankan dengan kesediaan berkorban (Notonegoro).

Destutt De Tracy (Perancis), berpendapat bahwa ideology adalah ‘Science of ideas’, suatu program yang diharapkan dapat membawa perubahan institutional dalam masyarakat Perancis.

Karl Marx, berpendapat bahwa ideology adalah pandangan hidup yang dikembangkan berdasarkan kepentingan golongan atau kelas sosial tertentu dalam bidang politik atau sosial ekonomi.

KATEGORI IDEOLOGI

Kategori yang pertama

II.1. Ideologi tertutup

Yaitu suatu system pemikiran tertutup yang ciri khasnya adalah;

  1. cita-cita satu kelompok orang dengan tujuan revolusi
  2. Isinya tidak hanya nilai-nilai tetapi juga tuntutan-tuntutan konkret dan operasional yang keras, diajukan dengan mutlak.

II.2 Ideologi terbuka

Yaitu suatu system pemikiran terbuka yang ciri khasnya adalah sebagai berikut;

1. Merupakan cita-cita, dan nilai-nilai yang terdapat dalam seluruh masyarakat, dan berdasar pada hasil consensus

2. Isinya tidak operasional. Menjadi operasional bila sudah dijabarkan kedalam perangkat yang berupa konstitusi atau perundang-undangan

3. Mampu mengikuti perkembangan jaman.

Kategori ideology berikutnya adalah secara sosiologis;

II.3. Bersifat partikular

Suatu keyakinan-keyakinan yang tersusun secara sistematis dan terkait erat dengan kepentingan suatu kelas sosial tertentu dalam masyarakat

II.4. Bersifat komprehensif

Suatu system pemikiran menyeluruh mengenai semua aspek kehidupan sosial.

Yusril Ihza Mahendra; Pancasila memiliki ciri menyeluruh, yaitu tidak berpihak pada golongan tertentu, bahkan ideology pancasila yang dikembangkan dari nilai-nilai yang ada pada realitas bangsa Indonesia itu mampu mengakomodasikan berbagai idealisme yang berkembang dalam masyarakat yang sifatnya majemuk tersebut.

HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT DAN IDEOLOGI

Filsafat merupakan sumber nilai-nilai, cita-cita dan norma dari ideology dan ideology merupakan suatu konsep operasionalisasi dari filasafat untuk mengaktualisasikan nilai-nilai yang terdapat dalam filsafat.

Transformasi filsafat menjadi sebuah ideology adalah sebagai berikut;

Filsafat yang mengandung nilai-nilai dan merupakan pandangan hidup dijadikan dasar/pedoman dalam menyelesaikan permasalahan, akhirnya filsafat dijadikan sebagai suatu keyakinan, cita-cita, dan dengan demikian filsafat telah menjadi sebuah ideology.

Makna ideology bagi bangsa dan Negara

Masyarakat membuat ideology semakin realistis, sebaliknya ideology mendorong masyarakat semakin mendekati bentuk yang ideal

Cermin cara berpikir masyarakat, bangsa dan Negara.s

Sumber motivasi dan sumber semangat

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI YANG REFORMIS, DINAMIS DAN TERBUKA.

Pancasila mengandung nilai sebagai berikut;

  1. Nilai dasar; essensi pancasila dengan kelima silanya dan bersifat universal yang mengandung cita-cita, tujuan, dan terdapat dalam pembukaan UUD 1945.
  2. Nilai instrumental; eksplisitasi, penjabaran lebih lanjut dari nilai-nilai dasar ideology Pancasila. Dalam hal ini menjadi arahan, kebijakan, strategi, sasaran, serta lembaga pelaksanaannya. Bersifat reformatif.
  3. Nilai praksis; realisasi nilai-nilai instrumental dalam suatu realisasi pengamalan yang bersifat nyata, dalam kehidupan sehari-hari dalam berbangsa, bermasyarakat, bernegara.

Secara structural sebagai ideology terbuka, pancasila memiliki tiga dimensi;

  1. Dimensi idealistis; nilai-nilai dasarnya merupakan idealisme untuk mewujudkan tujuan/cita-cita Negara.
  2. Dimensi normative; nilai-nilai dasarnya merupakan norma tertib hukum tertinggi , dan norma yang jelas dalam pembukaan UUD 1945.
  3. Dimensi realistis; Dapat direalisasikan dan dijabarkan dalam segala aspek kehidupan nyata.

III. Perbandingan ideology Pancasila dengan paham Ideologi besar lainnya di dunia.

IDEOLOGI PANCASILA

Nilai-nilainya bersumber kepada nilai-nilai yang hidup pada bangsa Indonesia.

Mendasarkan pada hakikat, sifat kodrat manusia dan kedudukan kodratnya

Nilai ketuhanan menjadi basis/titik tolak.

Bernegara dengan paham;

  1. Persatuan; ditegaskan dalam pokok pikiran pertama UUD 1945, dan menjelma pada slogan Bhinneka Tunggal Ika. Tidak terbagi-bagi dalam wilayah, bahasa, dan golongan. Mengatasi segala paham golongan dan paham perseorangan. Memiliki sifat persatuan bersama, berdasarkan kekeluargaan, tolong menolong atas dasar keadilan sosial.
  2. Kebangsaan. Bangsa merupakan persekutuan hidup yang dibentuk oleh manusia dalam suatu wilayah tertentu, dan memiliki tujuan tertentu. Menurut Muhammad Yamin, bangsa Indonesia dalam membentuk kebangsaannya mellaui tiga fase yaitu fase jaman kebangsaan Sriwijaya, Majapahit, serta fase jaman modern yang terbentuk melalui proses proklamasi 17 Agustus 1945. Hakikat bangsa bagi bangsa Indonesia adalah merupakan manifestasi kepentingan individu dan sekaligus sosial, sesuai dengan sifat kodrat manusia. Teori kebangsaan yang dianut pancasila adalah teori kemajemukan tunggal dengan unsur-unsur pembentuknya adalah kesatuan sejarah, kesatuan nasib, kebudayaan, wilayah, asas kerokhanian.
  3. Integralistik. Paham integralistik yang terkandung dalam pancasila meletakkan azas kebersamaan hidup, mendambakan keselarasan dalam hubungan antar individu maupun masyarakat. Rincian pandangannya adalah sebagai berikut;
    1. Negara merupakan suatu susunan masyarakat yang integral
    2. Semua golongan bagian, bagian dan anggotanya berhubungan erat satu dengan lainnya.
    3. Semua golongan bagian, bagian dan anggotanya merupakan persatuan masyarakat yang organis.
    4. Yang terpenting dalam kehidupan bersama adalah perhimpunan bangsa seluruhnya.
    5. Negara tidak memihak kepada sesuatu golongan atau perseorangan.
    6. Negara tidak menganggap kepentingan seseorang sebagai pusat
    7. Negara tidak hanya untuk menjamin kepentingan seseorang atau golongan saja.
    8. Negara menjamin kepentingan manusia seluruhnya sebagai suatu kesatuan integral
    9. Negara menjamin keselamatan hidup bangsa seluruhnya sebagai suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.

Negara kebangsaan yang berketuhanan YME;

Negara religius, bukan Negara sekuler, dan juga bukan Negara atas agama tertentu.

Menjamin kebebasan beragama dan beribadah.

Mempunyai landasan moral dan kerokhanian dalam menyelenggarakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hubungan Negara dan agama menurut pancasila;

  1. Negara adalah berdasar atas ketuhanan YME
  2. Warga memiliki hak asasi untuk memeluk dan menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing-masing
  3. Tidak ada tempat bagi atheisme, sekulerisme, karena hakikatnya manusia berkedudukan kodrat sebagai makhluk Tuhan.
  4. Tidak ada tempat bagi pertentangan agama,golongan agama, antar dan inter pemeluk agama.
  5. Tidak ada tempat bagi pemaksaan agama
  6. Toleransi terhadap orang lain dalam menjalankan agama dalam Negara
  7. Nilai Ketuhanan YME merupakan basis dalam segala aspek penyelenggaraan Negara
  8. Negara pada hakikatnya adalah merupakan suatu rakhmat Tuhan YME

Negara Kebangsaan yang berkemanusiaan yang adil dan beradab

Negara yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan YMe, dan menjamin serta melindungi hak-hak asasi manusia yang menjadi warganya.

Negara kebangsaan yang berkerakyatan

Negara yang berdasarkan kepada demokrasi. Demokrasi mondualis, yaitu demokrasi yang mengembangkan demokrasi kebersamaan, berdasarkan asas kekeluargaan, kebebasan individu diletakkan dalam rangka tujuan atas kesejahteraan bersama.

Negara kebangsaan yang berkeadilan sosial

Meujudkan dan menjamin keadilan bagi warga masyarakatnya yang meliputi keadilan distributive, komutatif dan legal.

Konsekuensinya Negara haruslah berdasarkan atas hukum dan mengakui serta melindungi hak-hak asasi manusia dalam konstitusinya.

Iklan

November 16, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

lanjutan pancasila pertemuan ke 4

rumusan kesatuan sila-sila pancasila sebagai suatu sistem dapat digambarkan sebagai berikut;

Pancasila terdiri dari sila-sila pancasila yang merupakan bagian mutlak dari pancasila. Setiap sila memiliki asas (asas peradaban) dan fungsi sendiri sendiri, namun demikian, pancasila dan bagian-bagian mutlaknya tersebut tidak merupakan bagian yang terpisah, tetapi dalam satu kesatuan yang sistematis dan dinamakan dengan majemuk tunggal.

Hakikat manusia yang monopluralis dapat di gambarkan sebagai berikut;

bahwa manusia memiliki unsur-unsur yaitu; ‘ susunan kodrat’ yang terdiri dari jasmani dan rokhani, ‘sifat kodrat’ yaitu sebagai individu dan makhluk sosial, ‘kedudukan kodrat’ yaitu sebagai pribadi berdiri sendiri dna sekaligus sebagai makhluk tuhan YME. kendatipun demikian hakikat manusia yang monopluralis dengan unsur-unsurnya ini tidak berdiri sendiri tetapi merupakan satu kesatuan yang bersifat organis dan harmonis.

Hakikat manusia yang monopluralis ini menjelma pada sila-sila pancasila. Maka pancasila dapat dikatakan juga memiliki satu kesatuan yang organis dengan sila-sila pancasila yang merupakan bagian mutlaknya.

Susunan pancasila yang berbentuk hierarkhis dan piramidal dapat digambarkan kesesuaiannya dengan negara sebagai berikut;

Hakikat manusia sebagai makhluk tuhan YME (sebagai sebab) (HAKIKAT SILA I DAN SILA II) yang membentuk persatuan mendirikan negara dan persatuan manusia dalam suatu wilayah disebut rakyat (HAKIKAT SILA III DAN SILA IV), yang ingin mewujudkan suatu tujuan bersama yaitu suatu keadilan dalam suatu persekutuan hidup masyarakat negara (keadilan sosial (HAKIKAT SILA V).

Pancasila sebagai nilai dasar fundamental bagi bangsa dan negara RI

dasar pemikiran filososfisnya adalah didasarkan pada pemikiran filsafat kenegaraan yang bertolak kepada adanya masyarakat hukum dalam suatu negara, dan kemudian sila-sila pancasila bisa mencerminkannya sebagai berikut; sila I merupakan kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan, dan sila kedua merupakan perwujudan tujuan sila pertama,sila ketiga merupakan realisasi dari sila ke satu dan dua, sila keempat merupakan konsekuensi dari sila kesatu dua dan tiga,  sila kelima merupakan jaminan bagi sila yang diatasnya.

Lalu bagaimanakah nilai-nilai pancasila sebagai nilai fundamental negara;

sebagai dasar filsafat negara maka pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum dalam negara Indonesia.

Kita bisa melihatnya dalam empat pokok pikiran yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945;sebagai berikut,

pokok pikiran pertama merupakan penjabaran sila ketiga.

pokok pikiran kedua merupakan penjabaran sila kelima

pokok pikiran ketiga merupakan penjabaran sila keempat

pokok pikiran keempat merupakan penjabaran sila pertama dan kedua.

pokok pikiran ini merupakan perwujudan dari sila-sila pancasila dan direalisasikan pada pasal-pasal UUD 1945. dan peraturan undang-undang lainnya.

Inti Isi sila-sila Pancasila

Sila pertama, mengandung nilai bahwa negara didirikan adalah sebagai pengejawantahan tujuan manusia sebagai makhluk Tuhan YME. Maka konsekuensinya segala yang berkaitan dengan penyelenggaraan kehidupan negara, harus dijiwai oleh sila pertama ini.

Sila kedua,mengandung nilai bahwa negara harus menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang beradab.

Sila ketiga, mengandung nilai bahwa negara mengatasi segala paham golongan, etnis, suku , ras , individu, dan agama. Karena negara sebagai penjelmaan sifat kodrat manusia monodualis yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.

Sila keempat, mengandung nilai demokrasi yang secara mutlak harus dilaksanakan dalam hidup negara.

Sila kelima, mengandung nilai keadilan yang merupakan tujuan negara sebagai tujuan hidup bersama. Keadilannya meliputi;

1. keadilan distributif , keadilan yang harus dipenuhi oleh negara terhadap wargany, menyangkut hajat hidup warganya demi kesejahteraan bersama.

2. Keadilan legal, kewajiban warga harus mentaati peraturan hukum dan UU yang berlaku

3. Keadilan komutatif, keadilan antar sesama warga negara yang harus bertimbal balik.


November 9, 2008 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

Pancasila pertemuan ke 4

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

Dosen : Wenny Ira Reverawati, S.IP., M.Hum

Berfilsafat secara mudah dapat dipahami sebagai ; bagaimanakah seseorang / individu memandang serta memahami kehidupan dan dunianya,

Contoh ; Gery berpandangan bahwa dalam hidup ini yang terpenting adalah kenikmatan, kesenangan, dan kepuasan lahiriah, maka Gery disebut memiliki pandangan dan paham hedonisme dalam hidupnya.

SECARA ETIMOLOGIS

Filsafat berasal dari bahasa Yunani;

Philein —à Cinta

Sophos à Hikmah/ kebijaksanaan

Secara harfiah à filsafat artinya cinta kebijaksanaan.

Cakupan bidang bahasan filsafat;à tentang manusia, tentang alam, tentang pengetahuan, tentang etika, tentang logika, dan lain sebagainya.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka terdapatlah bidang-bidang filsafat yang berkaitan dengan bidang-bidang ilmu; filsafat politik, filsafat hokum, dan bidang-bidang ilmu lainnya.

FILSAFAT DIKELOMPOKKAN SEBAGAI BERIKUT :

I. SEBAGAI PRODUK

  1. sebagai jenis pengetahuan, konsep, pemikiran-pemikiran dari para filsuf, ilmu. à lebih kepada aliran dalam filsafat. Contohnya, rasionalisme, materialisme.
  2. Sebagai suatu jenis problema yang dihadapi oleh manusia. Sebagai hasil dari aktivitas berfilsafat. Jadi manusia mencari suatu kebenaran yang timbul dari persoalan yang bersumber pada akal manusia.

II. SEBAGAI SUATU PROSES

Berfilsafat artinya à suatu AKTIVITAS berfilsafat, dalam PROSES pemecahan suatu permasalahan dengan menggunakan suatu CARA dan METODE tertentu yang sesuai dengan objeknya. à dalam hal ini filsafat menjadi suatu system pengetahuan yang bersifat dinamis.

CABANG-CABANG FILSAFAT YANG POKOK;

  1. Metafisika à membahas tentang hal-hal yang bereksistensi dibalik fisis.. misalnya , Ontologi, kosmologi, antropologi.
  2. Epistemologi à membahas tentang persoalan hakikat pengetahuan.
  3. Metodologi à membahas tentang persoalan hakikat metode dalam ilmu pengetahuan.
  4. Logika à membahas tentang persoalan filsafat berpikir, rumus-rumus dan dalil-dalil berfikir yang benar
  5. Etika à Membahas tentang moralitas
  6. Estetika à Membahas tentang persoalan hakikat keindahan.

Dari cabang-cabang ini kemudian muncul aliran-aliran dalam filsafat.

RUMUSAN KESATUAN SILA-SILA PANCASILA SEBAGAI SUATU SISTEM

Sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan, saling bekerjasama untuk suatu tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh.

Sistem memiliki cirri-ciri sebagai berikut;

1. Suatu kesatuan bagian-bagian

2. Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri

3. Saling berhubungan dan saling ketergantungan

4. Keseluruhannya dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu

5. Terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks

PANCASILA

 

Bagian-bagiannya

 

 

Sila 1 sila 2 sila 3 sila 4 Sila 5

 

Bagian- bagian yang mutlak

 

Memiliki asas (asas peradaban) sendiri-sendiri dan fungsi sendiri- sendiri.

Kesatuan yang sistematis Majemuk tunggal

I. KESATUAN SILA-SILA PANCASILA YANG BERSIFAT ORGANIS

Dalam hal ini pancasila dibahas bersumber pada hakikat dasar ontologis manusia sebagai PENDUKUNG dari INTI, isi dari sila-sila Pancasila, yaitu hakikat manusia monopluralis.

HAKIKAT MANUSIA MONOPLURALIS

Memiliki unsur-unsur :

         susunan kodrat’ yaitu jasmani dan rohani

         sifat kodrat’ yaitu sebagai individu dan makhluk sosial

         kedudukan kodrat’ yaitu sebagai pribadi berdiri sendiri dan sekaligus sebagai makhluk Tuhan Yang maha Esa.

Suatu kesatuan yang bersifat organis dan harmonis

Menjelma pada Pancasila

II. SUSUNAN PANCASILA YANG BERSIFAT HIERARKHIS DAN BERBENTUK PIRAMIDAL

Menggambarkan hubungan hierarkhi sila-sila pancasila dalam urutan-urutan luas (kwantitas) dan juga dalam hal isi sifatnya (kwalitas).

Sila Ketuhanan YME menjadi basis dari sila-sila yang berikutnya.

Ketuhanan YME adalah ketuhanan yang berkemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan serta berkeadilan sosial, sehingga di dalam setiap sila senantiasa terkandung sila-sila lainnya.

Secara ontologis hakikat sila-sila Pancasila mendasarkan pada landasan sila-sila Pancasila yaitu : Tuhan, Manusia, satu, Rakyat, dan adil.

Kaitannya dengan Negara sebagai dasar filsafat Negara; sifat-sifat dan keadaan Negara harus sesuai dengan hakikat sila-sila pancasila secara ontologis tersebut diatas. Dapat diuraikan sebagai berikut;

HAKIKAT MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK TUHAN YME (SILA I & II)

(Sebagai sebab)

HAKIKAT MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK TUHAN YME (SILA I & II) (Sebagai sebab)

Membentuk persatuan mendirikan negara dan persatuan manusia dalam suatu wilayah disebut rakyat (hakikat sila III dan IV)

Ingin mewujudkan suatu tujuan bersama yaitu suatu keadilan dalam suatu persekutuan hidup masyarakat Negara ( Hakikat sila V)

Rumusannya adalah sebagai berikut;

  1. Sila pertama meliputi dan menjiwai sila kedua, sila ketiga sila ke empat dan sila ke lima.
  2. Sila kedua diliputi dan dijiwai oleh sila pertama. Kemudian sila kedua meliputi dan menjiwai sila ketiga, sila keempat dan sila ke lima.
  3. Sila ke tiga, diliputi dan dijiwai sila ke satu dan kedua. Kemudian sila ketiga ini meliputi dna menjiwai sila keempat dan sila kelima.
  4. sila keempat, diliputi dan dijiwai oleh sila kesatu, sila kedua, sila ketiga. Kemudian sila keempat meliputi dan menjiwai silakelima.
  5. Sila kelima, diliputi dan dijiwai sila pertama, sila kedua, sila ketiga dan sila keempat, dan sila kelima.

III. RUMUSAN HUBUNGAN KESATUAN SILA-SILA PANCASILA YANG SALING MENGISI DAN SALING MENGKUALIFIKASI.

Baik kesatuan sila-sila pancasila yang majemuk tunggal maupun yang hierarkhis pyramidal, memiliki sifat saling mengisi dan mengkualifikasi. Dalam setiap sila senantiasa dikualifikasi oleh keempat sila lainnya.

Rumusannya sebagai berikut;

  1. Sila ketuhanan YME, adalah ketuhanan yang berkemanusiaan yang adil dna beradab,, berpersatuan Indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
  2. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab, adalah kemanusiaan yang berketuhanan YME, berpersatuan Indonesia, dan seterusnya…
  3. sila persatuan Indonesia, adalah persatuan yang berketuhanan YME, berkemanusiaan yang adil dan beradab, dan seterusnya…
  4. Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan, adalah berketuhanan YME, berkemanusiaan yang adil dan beradab,dan seterusnya
  5. Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, keadilan sosial yang berketuhanan YME, berkemanusiaan, dan seterusnya…

KESATUAN SILA-SILA PANCASILA SEBAGAI SUATU SISTEM FILSAFAT

Menyangkut makna serta hakikat sila-sila pancasila, yang memiliki;

I. DASAR ONTOLOGIS SILA-SILA PANCASILA

Dasar ontologis pancasila pada hakikatnya adalah MANUSIA yang memiliki hakikat monopluralisà dasr antropologis.

Manusia sebagai subjek pendukung pokok sila-sila pancasila. Kedudukan kodrat manusialah yang menyebabkan sila ketuhanan YME ada pada urutan pertama dan mendasari sila yang lainnya.

Hubungan kesesuaian dengan Negara, Negara sebagai akibat dan pendukung hubungan, sedangkan Tuhan, manusia, satu, rakyat, adil, sebagai sebab dan pokok pangkal hubungan.

II. Dasar epistemologis sila-sila pancasila

Pancasila menjelma sebagai suatu ideologi dalam kedudukannya sebagai suatu sistem pengetahuan, dan harus memiliki unsur rasional.

Dasar-dasar rasional logis pancasila menyangkut susunan isi arti pancasila yang umum universal ( pangkal tolak segala undang-undang Negara), umum kolektif ( sebagai pedoman kolektif Negara terutama dalam tertib hukumnya), khusus dan kongkrit (bagaimana sifat empirisnya, atau realisasinya dalam kehidupan praktis masyarakat yang berbangsa dan bernegara.

Pancasila mampu menjawab persoalan mendasar dalam epistemology yaitu, sumber pengetahuan manusia, teori kebenaran pengetahuan manusia, watak pengetahuan manusia.

Sumber pengetahuan pancasila adalah bangsa Indonesia sebagai kausa materialis dari nilai-nilai pancasila.

Untuk menjawab kebenaran pengetahuan akal manusia, didasarkan pada tingkat-tingkat pemikiran (memoris, reseptif, kritis, kreatif) hingga sampai pada transformasinya pada tingkatan sebagai berikut; demonstrative, imajinasi, asosiasi, analogi, refleksi, intuisi, inspirasi dan ilham. Berdasarkan hal tersebut, pancasila mengakui dan terbuka dengan adanya kebenaran empiris terhadap pengetahuan manusia yang bersifat positif, mengakui kebenaran yang bersumber pada intuisi, mengakui kebenaran wahyu yang bersifat mutlak, dan juga mengakui kebenaran consensus.

Menyangkut watak pengetahuan manusia, sebagai suatu paham epistemologis pancasila mendasarkan pandangannya bahwa ilmu pengetahuan pada hakikatnya tidak bebas nilai karena harus diletakkan pada kerangka moralitas kodrat manusia serta moralitas religius.s

III. DASAR AKSIOLOGIS SILA-SILA PANCASILA

Membahas, berpijak pada nilai-nilai yang terkandung dalam nilai-nilai pancasila.

Tinggi rendahnya nilai-nilai dapat dikelompokkan sebagai berikut;

  1. nilai kenikmatan
  2. nilai kehidupan
  3. nilai kejiwaan

tingkatan nilai ini dikelompokkan lagi menjadi

  1. nilai material
  2. nilai vital
  3. nilai kerokhanian
    1. nilai kebenaran
    2. nilai keindahan
    3. nilai moral

Nilai-nilai pancasila termasuk nilai kerokhanian yang mengakui nilai material dan nilai vital.

November 9, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

November 5, 2008 Posted by | Uncategorized | 2 Komentar